Senin, 20 Desember 2010

Mengelola Karet

Masyarakat Lubuk Beringin, di Jambi telah mengelola karet sejak 1900-an di hutan-hutan dekat mereka. Total luas kebun karet di desa ini adalah 682 ha yang keseluruhannya merupakan kebun karet produktif dan terbagi ke dalam 3 hamparan besar yaitu Sungai Panjang/Sungai Cino, Sungai Alai dan Batang Buat. Kebun karet di Sungai Panjang/Sungai Cino paling luas dibandingkan kedua lokasi hamparan lainnya. Umur kebun karet tertua adalah 90 tahunan dan umumnya kebun karet tua berumur sekitar 60-70 tahun. Pemilik kebun karet di desa ini adalah 79 KK. Rata-rata luas kebun karet yang dimiliki petani adalah 2-4 ha, hanya ada 2 orang yang memiliki kebun karet sekitar 10-20 ha.
Rata-rata kebun karet mulai disadap pada umur 10-15 tahun. Metode tebas yang digunakan untuk pemeliharaan kebun karet adalah metode tebas lorong dengan frekuensi pembersihan lahan yang tidak teratur. Sejak 3 tahun terakhir, masyarakat melakukan pembersihan kebun secara intensif di kebun karet tua untuk melakukan penanaman karet dengan sistem sisipan.
Sebagian besar petani karet di desa ini berinisiatif sendiri membuat pembibitan karet (yang dimiliki perseorangan) untuk pemenuhan kebutuhan bibit karet di kebun masing-masing. Jenis tumbuhan yang dibiarkan hidup di kebun diantaranya adalah medang, kelat, meranti, jelutung dan jenis ekonomis lainnya. Petani cenderung memelihara beberapa jenis pohon yang bernilai ekonomis seperti kempas, keranji, meranti, jelutung, kelat.
Rata-rata hari sadap per minggu di desa ini adalah 4 hari. Produktivitas karet untuk kebun karet berumur > 50 tahun dengan sekitar 50 batang karet/ha adalah sekitar 3 kg/ha/hari, karena rendahnya produksi di kebun tua maka kebanyakan kebun karet tua tidak disadap lagi. Kebun karet berumur sekitar 35 tahun dengan 250 batang karet/ha dapat berproduksi 15 kg/ha/hari, sedangkan kebun karet berumur 20-25 tahun dengan 500 batang karet/ha dapat berproduksi 25 kg/ha/hari (yang merupakan produksi maksimum).
Kayu yang ada di kebun karet biasanya digunakan untuk keperluan pribadi atau bila ada orang lain yang memerlukannya bisa diambil. Saat ini belum banyak pohon kayu yang dijual dari kebun karet tua. Selain karet dan kayu, produk lain yang dihasilkan dari kebun karet adalah buah-buahan.
Bagi petani yang belum memiliki kebun yang produktif atau produktivitas kebun rendah akan menjadi buruh sadap kebun orang lain yang dapat sekaligus berfungsi sebagai toke dengan sistem bagi hasil 1 : 3 (2/3 untuk buruh sadap dan 1/3 toke). Kebutuhan buruh sadap sebelum hasil sadapan dijual/ditimbang akan dipinjam dari toke. Tanggung jawab buruh sadap terhadap kebun sangat kecil sekali, yaitu rutinitas penyadapan dan membersihkan jalan, sementara tanggung jawab lainnya berada pada pemilik (kayu penting dan hasil buah-buahan hak pemilik kebun). Bila pemilik kebun meminta penyadap untuk membersihkan lahan biasanya dengan cara membayar sesuai dengan upah yang berlaku (harian atau borongan) atau sesuai dengan kesepakatan. Penyadap hanya boleh mengambil kayu bakar atau mengambil hasil lain dalam jumlah kecil untuk konsumsi sendiri, tetapi apabila ingin mengambil dalam jumlah besar (kayu bangunan, buah-buahan) penyadap harus meminta izin kepada pemilik. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa manajemen kebun sepenuhnya berada pada pemilik dan penyadap hanya sebatas menyadap karet.
Pengelolaan kebun karet muda mulai dilakukan secara intensif dengan investasi lebih besar seperti pembelian bibit, pemagaran, pembersihan secara teratur dan, sebagai contoh penebasan semak dilakukan 2 kali per tahun pada karet muda sedangkan pada karet tua hanya dibersihkan pada lorongnya saja. Intensitas pengelolaan kebun karet tua lebih rendah dari pada kebun karet muda, ini karena tingkat produkstivitasnya mulai menurun (umur dan jumlah batang produktif berkurang). Kondisi seperti ini terjadi bila management pengelolaan kebun tidak dilakukan dengan baik, faktor yang mempercepat kerusakan kebun adalah:
  • Kontrol pemilik
Bila pemilik tidak mengontrol tatacara buruh sadap dalam melakukan penyadapan pohon karet yang sesuai dengan aturan-aturan yang dianjurkan akan menyebabkan terjadinya kerusakan batang yang akhirnya menyebabkan pohon tumbang dan mati.
  • Penerapan Teknik budidaya perkebunan
Pemilik kebun kadang-kadang kurang memperhatikan musimmusim/cuaca yang tidak baik baik dalam menyadap disamping kurang memahami secara teknis budidaya tanaman karet.
  • Penyisipan
Untuk menghindari berkurangnya kerapatan pohon karet sedini mungkin sudah menyiapkan/menyemaikan bibit karet untuk digunakan sebagai penyisipan.

1 komentar:

  1. thank you boss...mampir ke blog saya ya...
    http://info-perkebunan.blogspot.com/

    BalasHapus